1.
FALSAFAH ILMU PENGETAHUAN
1.1
Pengertian Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Dalam
berbagai pemikiran terdapat banyak pengertian tentang filsafat. Secara
etimologis filsafat berasal dari kata “philos” yang artinya love (cinta)
dan “sophia” artinya wisdom (kebijaksanaan-kearifan). Jadi
filsafat dapat diartikan cinta secara mendalam terhadap kebijaksanaan, cinta
akan kearifan (Salam,2002:33). Menurut Henderson filsafat dapat berarti sebagai
pendirian hidup, sebagai pandangan hidup. Misalnya falsafah Pancasila merupakan
pandangan atau pendirian hidup bagi bangsa Indonesia.
Definisi
filsafat menurut beberapa ilmuwan antara lain:
A. Plato (427sm – 347sm) seorang filsuf yunani yang termasyhur murid socrates dan guru aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
A. Plato (427sm – 347sm) seorang filsuf yunani yang termasyhur murid socrates dan guru aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
B. Aristoteles (384 sm – 322sm) mengatakan :
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya
terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan
estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
C. Marcus tullius cicero (106 sm – 43sm)
politikus dan ahli pidato romawi, merumuskan: filsafat adalah pengetahuan
tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
D. Al-farabi (meninggal 950m), filsuf muslim
terbesar sebelum ibnu sina, mengatakan : filsafat adalah ilmu pengetahuan
tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
E. Immanuel kant (1724 -1804), yang sering
disebut raksasa pikir barat, mengatakan : filsafat itu ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: ” apakah
yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika) ” apakah yang dapat kita
kerjakan? (dijawab oleh etika) ” sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab
oleh antropologi)
F. Prof. Dr. Fuad hasan, guru besar
psikologi ui, menyimpulkan: filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir
radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang
hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat
berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
G. Drs h. Hasbullah bakry merumuskan: ilmu
filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai
ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan
bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Ilmu Pengetahuan
Mohammad
Hatta, mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan
hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut
kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam Ralp Ross
dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum
dan sistematik, dan keempatnya serentak Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah
lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta
pengalaman dengan istilah sederhana Ashely Montagu, Guru Besar Antropolo di
Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn
dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk
menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Harsojo,
Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah: Merupakan
akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan Suatu pendekatan atau mmetode
pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh factor
ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia. Suatu
cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu
proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
Afanasyef,
seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan
manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan
konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya
diuji dengan pengalaman praktis.
Cambridge-Dictionary
1995 : Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai
objek dan tujuan tertentu dengan sistim, metode untuk berkembang
serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.
Menurut
Sutrisno Hadi, ilmu pengetahuan adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan
dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan
yang teratur.
1.2 Hubungan
Antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu berbagai pengertian
tentang filsafat dan ilmu sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka berikutnya
akan tergambar pula. Pola hubungan antara ilmu dan filsafat. Pola relasi
ini dapat berbentuk persamaan antara ilmu dan filsafat, terdapat juga perbedaan diantara keduanya. Di zaman Plato,
bahkan sampai masa al Kindi, batas antara filsafat dan ilmu
pengetahuan boleh disebut tidak ada. Seorang filosof pasti menguasi semua ilmu.
Tetapi perkembangan pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat
praksis, berujung pada loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat.
Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam daya perkembangan berikut,
perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung dengan kecanggihan teknologi, telah
mengalahkan perkembangan filsafat. Wilayah kajian filsafat bahkan seolah lebih
sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan
wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu
anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang
relevan dikembangkan ole manusia. Sebab manusia hari ini mementingkan ilmu yang
sifatnya praktis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit “dibumikan”.
Tetapi masalahnya betulkah demikian?Ilmu telah menjadi sekelompok
pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu
menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat
observasi dan eksperimen.
Keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen sendiri, dapat
didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang
cenderung Spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Dengan demikian, ilmu
pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan
manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan
secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteoritisasi.
Ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Ilmu bersifat pasteriori.
Kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara
berulang-ulang. Untuk kasus tertentu, ilmu bahkan menuntut untuk diadakannya
percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat
bersifat priori, yakni; kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab
filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti dimiliki ilmu. Karena filsafat bersifat spekulatif dan kontemplatif
yang ini juga dimiliki ilmu.
Kebenaran
filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat itu sendiri, tetapi hanya dapat
dibuktikan oleh teori-teori keilmuan melalui observasi dan eksperimen atau
memperoleh justifikasi kewahyuan. Dengan
demikian, tidak setiap filosof dapat disebut sebagai ilmuan, sama seperti tidak semua ilmuwan disebut filosof. Meski demikian
aktifitas berpikir. Tetapi aktivitas dan ilmuwan itu sama, yakni menggunakan
aktifitas berpikir filosof. Berdasarkan cara berpikir seperti itu, maka hasil
kerja filosofis dapat dilanjutkan oleh cara kerja berfikir ilmuwan. Hasil kerja
filosofis bahkan dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu. Namun demikian,
harus juga diakui bahwa tujuan akhir dari ilmuwan yang bertugas mencari
pengetahuan, sebagaimana hasil analisa Spencer, dapat dilanjutkan oleh cara
kerja berpikir filosofis.
Realitas juga menunjukan bahwa hampir tidak ada satu cabang ilmu yang lepas
dari filsafat atau serendahnya tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan
untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat
untuk mengkaji ilmu pengetahuan, pada apa yang disebut sebagai filsafat
pengetahuan, yang kemudian berkembang lagi yang melahirkan salah satu cabang
yang disebut sebagai filsafat ilmu.
1.3 Manusia dan Ilmu Pengetahuan
Kemampuan manusia untuk menggunakan
akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan
manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan
dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan
akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir
merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di
muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia pun
tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.
Berfikir juga memberi kemungkinan
manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu
dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Ketika
Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada dasarnya
mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan
berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya
di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah)
yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan
pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan
akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia
dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat,
dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah
penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah
pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin
mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan
berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya
manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih
baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang
kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).
Kemampuan untuk berubah dan perubahan
yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan
Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia
dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas
dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir
manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan
penting untuk kehidupannya. Semua itu, pada dasarnya menggambarkan keagungan
manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya
memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini.
1.4
Kelahiran Ilmu Pengetahuan Modern
Menurut Prof DR. M.
J. Langerveld, Guru besar pada Rijk University di Utrecht (Belanda) Ilmu
Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu, yang
merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan yang sistematis yang
dapat dipertanggungjawabkan dengan sebab-sebab suatu kejadian. Ilmu adalah
pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan
pengetahuan lainnya, diantara ciri khas ilmu atau ilmu pengetahuan yaitu
obyektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut,
maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan pengetahuan akan
terbimbing sedemikian hingga padanya terkembangkan suatu sikap yang disebut
sikap ilmiah.
Objek penelaah ilmu adalah seluruh segi kehidupan yang dapat di uji oleh panca indra manusia. Ilmu membatasi diri pada kejadian-kejadian yang besifat empiris, yang terjangkau oleh fitrah pengalaman manusia dengan menggunakan panca indranya. Objek dibedakan atas dua hal yaitu, objek material adalah objek yang dilihat secara keseluruhan, dan objek formal yang dilihat dari suatu aspek tertentu saja. Untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu memerlukan pencarian pengetahuan yang dapat dilakukan secara nonilmiah dan ilmiah dengan mengacu pada kerangka filsafat. Pencarian ilmu pengetahuan ilmiah (metode ilmiah) dilakukan berdasarkan pemikiran rasional, pengalaman empiris (fakta), maupun referensi pengalaman sebelumnya. Cara untuk mendapatkannya harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
Objek penelaah ilmu adalah seluruh segi kehidupan yang dapat di uji oleh panca indra manusia. Ilmu membatasi diri pada kejadian-kejadian yang besifat empiris, yang terjangkau oleh fitrah pengalaman manusia dengan menggunakan panca indranya. Objek dibedakan atas dua hal yaitu, objek material adalah objek yang dilihat secara keseluruhan, dan objek formal yang dilihat dari suatu aspek tertentu saja. Untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu memerlukan pencarian pengetahuan yang dapat dilakukan secara nonilmiah dan ilmiah dengan mengacu pada kerangka filsafat. Pencarian ilmu pengetahuan ilmiah (metode ilmiah) dilakukan berdasarkan pemikiran rasional, pengalaman empiris (fakta), maupun referensi pengalaman sebelumnya. Cara untuk mendapatkannya harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1. Objektif,
pengetahuan itu harus sesuai objeknya.
2. Metodik, pengetahuan
itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan
terkontrol.
3. Sistimatis,
pengetahuan ilmiah yang tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri,
satu dengan yang lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga
keseluruhannya merupakan satu kesatuan yang utuh.
4. Berlaku Umum,
pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseoramg atau
sekelompok orang, tetapi dengan pengalaman itu diperoleh hasil yang sama atau
konsisten.
Keseluruhan langkah
ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah, lewat metode
inilah nantinya akan melahirkan ilmu-ilmu baru yang menjadi cikal bakal
lahirnya ilmu alamiah modern terutama Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
2.
PENELITIAN
DAN ILMU PENGETAHUAN
2.1 Pengertian
Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah adalah
rangkaian pengamatan yang sambung menyambung, berakumulasi dan melahirkan
teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena. Penelitian ilmiah sering diasosiasikan
dengan metode ilmiah sebagai tata cara sistimatis yang
digunakan untuk melakukan penelitian. Penelitian ilmiah juga menjadi salah satu
cara untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Adanya penelitian ilmiah membuat ilmuberkembang, karena
hipotesis-hipotesis yang dihasilkan oleh penelitian ilmiah seringkali mengalami retroduksi.
Penelitian
ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam
proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan
yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat
melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang
dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan
atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu
tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan
terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses
pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya
berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara
ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi.
2.1 Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dengan
Penelitian
Akhir-akhir
ini sering dijumpai adanya kecenderungan para sarjana melihat ilmu pengetahuan
hanya sebagai produk bukan sebagai proses. Bila dikaji secara cermat
sesungguhnya:
a. Penelitian
merupakan alat memproses ilmu pengetahuan, dimana alat tersebut harus berjalan
dengan cepat dan berkelanjutan supaya dapat mengahasilkan produk yang cukup
serta berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
b. Pada
hakikatnya penelitian merupakan suatu usaha untuk menjembatani dunia konsep
dengn dunia empiris.
Dalam menjembatani dunia konsep
dengan dunia empiris, peneliti harus memperoleh dan mencapai ilmu pengetahuan,
lantaran peneliti harus memiliki kemampuan dalam hal Menerangkan, Memperoleh pengertian, Meramalkan, Mengontrol.
Sebagaimana
yang telah diungkapkan diatas bahwasannya tujuan dasar ilmu adalah teori.
Sedangakan pengertian dari teori yang dimaksut bahwa:
“Teori adalah seperangkat konsep (konstruk),
batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang
fenomena dengan memerinci hubungan-hubungan antar variable, dengan tujuan
menjelaskan dan memprediksikan gejala tersebut”
Batasan
diatas mengandung 3 hal. Pertama, sebuah teori adalah
seperangkat proposisi yang terdiri atas konstruk-konstruk yang terdefinisikan
dan salingberhubungan. kedua, teori menyusun antarhubungan
seperangkat variable dan dengan demikian merupakan suatu pandangan sistematis
mengenai fenomena-fenomena yang dideskripsikan oleh variable-variabel
itu. Ketiga, suatu teori yang menjelaskan fenomena, dan penjelasan
itu dianjukan dengan cara menunjuk secara rinci variable-variabel tertentu yang
berkaitan dengan variable lainnya.
2.3 Langkah-Langkah
Penelitian Ilmiah
Proses
pelaksanaan penelitian ilmiah terdiri dari langkah-langkah yang juga menerapkan
prinsip metode ilmiah. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan selama
melakukan penelitian ilmiah adalah sebagai berikut:
1.
mengidentifikasi dan merumuskan masalah
2.
melakukan studi pendahuluan
3.
merumuskan hipotesis
4.
mengidentifikasi variabel dan definisi
operasional variabel
5.
menentukan rancangan dan desain
penelitian
6.
menentukan dan mengembangkan instrumen
penelitian
7.
menentukan subjek penelitian
8.
melaksanakan penelitian
9.
melakukan analisis data
10.
merumuskan hasil penelitian dan
pembahasan
11.
menyusun laporan penelitian dan
melakukan desiminasi.
Berikut kita bahas setiap langkah-langkah penelitian ilmiah (scientific research)
Mengidentifikasi dan Merumuskan Masalah
Proses
identifikasi masalah penting dilakukan agar rumusan masalah menjadi tajam dan
sebagai bentuk data awal bahwa dalam penelitian ilmiah tersebut memang
dibutuhkan pemecahan masalah melalui penelitian.
Melakukan Studi Pendahuluan
Di
dalam penelitian ilmiah, perlu dilakukan sebuah studi pendahuluan. Peneliti
dapat melakukannya dengan menelusuri dan memahami kajian pustaka untuk bahan
penyusun landasan teori yang dibutuhkan untuk menyusun hipotesis.
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis
perlu dirumuskan dalam sebuah penelitian ilmiah, lebih-lebih penelitian
kuantitatif. Dengan menyatakan hipotesis, maka penelitian ilmiah yang dilakukan
peneliti akan lebih fokus terhadap masalah yang diangkat.
Mengidentifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Sebuah
variabel dalam penelitian ilmiah adalah fenomena yang akan atau tidak akan
terjadi sebagai akibat adanya fenomena lain. Variabel penelitian sangat perlu
ditentukan agar masalah yang diangkat dalam sebuah penelitian ilmiah menjadi
jelas dan terukur.
Menentukan Rancangan atau Desain Penelitian
Rancangan
penelitian sering pula disebut sebagai desain penelitian. Rancangan penelitian
merupakan prosedur atau langkah-langkah aplikatif penelitian yang berguna
sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian ilmiah bagi si peneliti yang
bersangkutan.
Menentukan dan Mengembangkan Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian merupakan alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data
yang dibutuhkannya. Beragam alat dan teknik pengumpulan data yang dapat dipilih
sesuai dengan tujuan dan jenis penelitian ilmiah yang dilakukan
Menentukan Subjek Penelitian
Orang
yang terlibat dalam penelitian ilmiah dan berperan sebagai sumber data disebut
subjek penelitian. Seringkali subjek penelitian berkaitan dengan populasi dan
sampel penelitian. Apabila penelitian ilmiah yang dilakukan menggunakan sampel
penelitian dalam sebuah populasi penelitian, maka peneliti harus berhati-hati
dalam menentukannya
Melaksanakan Penelitian
Pelaksanaan
penelitian adalah proses pengumpulan data sesuai dengan desain atau rancangan
penelitian yang telah dibuat. Pelaksanaan penelitian harus dilakukan secara
cermat dan hati-hati karena kan berhubungan dengan data yang dikumpulkan,
keabsahan dan kebenaran data penelitian tentu saja akan menentukan kualitas
penelitian yang dilakukan.
Melakukan Analisis Data
Beragam
data yang terkumpul saat peneliti melaksanakan penelitian ilmiahnya tidak akan
mempunyai kana apapun sebelum dilakukan analisis. Ada beragam alat yang dapat
digunakan untuk melakukan analisis data, bergantung pada jenis data itu
sendiri. Bila penelitian ilmiah yang dilakukan bersifat kuantitatif, maka jenis
data akan bersifat kuantitatif juga. Bila penelitian bersifat kualitatif, maka
data yang diperoleh akan bersifat kualitatif dan selanjutnya perlu diolah
menjadi data kuantitatif. Untuk itu perlu digunakan statistik dalam pengolahan
dan analisis data.
Merumuskan Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada
hakekatnya merumuskan hasil penelitian dan melakukan pembahasan adalah kegiatan
menjawab pertanyaan atau rumusan masalah penelitian, sesuai dengan hasil
analisis data yang telah dilakukan. Pada saat melakukan pembahasan, berarti
peneliti melakukan interpretasi dan diskusi hasil penelitian Hasil penelitian
dan pemabahasannya merupakan inti dari sebuah penelitian ilmiah.
Menyusun Laporan Penelitian dan Melakukan Desiminasi
Seorang peneliti yang telah melakukan
penelitian ilmiah wajib menyusun laporan hasil penelitiannya. Penyusunan
laporan dan desiminasi hasil penelitian merupakan langkah terakhir dalam
pelaksanaan penelitian ilmiah. Format laporan ilmiah seringkali telah dibakukan
berdasarkan institusi atau pemberi sponsor di mana penelitian itu melakukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Salam, Burhanuddin.2002.Pengantar
Pedagogik.Jakarta:PT Rineka Cipta
Adisasmita,
Yusuf.1989.Hakekat, Filsafat dan Peranan Pendidikan Jasmani Dalam Masyarakat.Jakarta:Dirjen
Dikti
Saifullah,
Ali.1990.Filsafat dan Pendidikan.Surabaya:Usaha Nasional
Tafsir, Ahmad.2007.Filsafat
Ilmu.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_ilmiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar